Tentang Kata Shalom

Oleh: Dr. Frans P. Tamarol

Dalam perjalanan pelayanan, penulis sering mendapatkan pertanyaan menyangkut penggunaan kata “syalom”, yang selalu dijawab, “Tidak ada kata itu, baik dari bahasa aslinya maupun dalam terjemahan ke bahasa Indonesia, walaupun mungkin saja dalam beberapa tulisan para pemimpin Kristen kita sempat melihat ada kata syalom di dalamnya.” Mungkin kita bisa dapati kata ini juga di dalam judul dan lirik nyanyian-nyanyian seperti di lagu yang dinyanyikan oleh Rio Dafcar E., Syalom, Assalamu’Alaikum. Ya, paling kurang sampai detik ini kita ketahui bahwa kata syalom belum dibakukan. Apabila para pembaca mau mencari arti kata “syalom” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia melalui internet, maka di layar anda akan mucul kalimat, “Pencarian Anda ‘syalom’ tidak ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.”
Dalam bahasa Ibrani, kata ini ditulis םוֹ֑ל שׁ (Shin-Lamed-Vav-Mem). Perhatikan bahwa huruf
depannya (di baca dari kanan ke kiri) berbunyi “shin” bukan “syin.” Apabila pengejaan ini ditransliterasi ke bahasa Indonesia, maka satu-satunya cara yang mungkin dapat dilakukan ialah mengubah bunyi “sh” menjadi “sy” atau “s” saja. Alasannya, karena abjad kita dalam bahasa Indonesia tidak mengenal konsonan rangkap “sh”, sehingga tidak mungkin menyerap kata shalom tanpa mengubah bunyi huruf di depannya. Namun sekali lagi, sampai detik ini, transliterasi kata shalom ke dalam bahasa Indonesia belum dibakukan, entah menjadi syalom atau salom. Itu sebabnya penulis menjawab “tidak ada” kata syalom.
Hal serupa yang kita dapati pada penggunaan kata “theologi” yang di dalam gelar Sarjana Theologi disingkat menjadi S.Th. ada juga gelar M.Th (Indonesia), entah kepanjangannya adalah Master of Theology seperti di luar negeri, ataukah Magister Theologi. Hal ini menjadi rancu karena abjad bahasa Indonesia tidak mengenal konsonan rangkap “th”, lagipula Kamus Besar Bahasa Indonesia menerjemakan theology sebagai “teologi,” seperti juga kata maranatha di dalam Alkitab TB ditulis “maranata” (baca 1 Korintus 16:22).
Kembali ke pembahasan lanjut kata “syalom”, dalam tulisan ini akan diarahkan pada penggunaan kata shalom (ditulis miring karena bukan bahasa Indonesia). Makna kata shalom ialah “damai” atau “damai sejahtera.” Juga dapat berarti “selamat.” Apabila kata shalom dipakai sebagai pendahuluan sebuah pidato atau khotbah atau surat, maka kurang lebih pihak yang mengatakannya atau menulisnya sedang mengucapkan “damai sejahtera” kepada para pendengar atau pembaca.
Dalam Perjanjian Lama, kata itu diterjemahkan “sejahtera” (Kej. 15:15), “damai” (Kej. 26:29), “selamat” (Kej. 29:6) dsbnya. Dalam bahasa lisan, mungkin para pendengar diharapkan akan membalas dengan shalom, atau mungkin juga tidak (seperti kalau kata itu dipakai dalam tulisan misalnya).
Dalam Alkitab, khususnya pada surat2 Paulus, biasanya di semua surat ada bagian yang dalam Alkitab berbahasa Indonesia diberi judul “Salam”, lalu ayat menyusul akan berisi kata2 “Kasih karunia (charis) dan damai sejahtera (eirene) “ (Filipi 1:2). Salam seperti itu dalam bahasa Ibrani (penulis sebut
Jewish style) ditulis sebagai Shalom Aleichem atau dalam bahasa Arab (penulis sebut Arabic style), Assalamu Alaikum. Seperti pada salam Malaikat kepada Maria dalam Lukas 1:28, Alkitab “tempo doeloe” menerjemahkan salam itu dalam Arabic style.
Kata Yunani yang dipakai dalam Lukas 1:28 bukan eirene (eiro = damai sejahtera) melainlam chairo (salam, greeting, joy, rejoice). Kata ini juga muncul dalam bentuk χαῖρε dibaca chaire (verb, present, imperative, active, 2nd person, singular; band. χαίρετε dalam Filipi 4:4). Ketika Tuhan Yesus menyalami murid-murid, dalam penampakan-Nya sesudah kebangkitan (Yoh. 20:19), kata yang digunakan ialah

Read More

εἰρήνη ὑμῖν ditransliteralkan eirene humin yang kurang lebih sama dengan shalom aleichem, ditulis

םכילﬠ םוֹלשׁ (dibaca šalôm ‘alêkem) seperti yang kita baca dalam Perjanjian Baru bahasa Ibrani. Frasa

Ibrani ini berarti, šālôm = peace, + ‘ălêkem (‘al, ‘ălê, to, upon + kem, second person plural pronoun) = with you
Penulis tidak membiasakan diri menggunakan kata shalom ketika memulai khotbah atau sambutan, dengan maksud untuk tidak menambah keruwetan penggunaan bahasa yang kurang dipahami oleh para pendengar seperti yang dialami dengan kata-kata “Amin”, “Haleluya”, “Hosana”, dan “Maranata” yang begitu populer penggunaanya sehingga orang merasa tidak perlu tahu artinya, yang penting pakai saja. Akibatnya banyak sekali ide yang salah yang timbul dari penggunaan kata-kata itu. Sayang sekali gereja- gereja, maksudnya, para pelayan sepertinya tidak peduli terhadap kesimpang-siuran dan pemahaman yang salah menyangkut kata-kata yang populer itu dalam masyarakat kristiani.
Jadi, untuk kata shalom misalnya, kalau kata itu dipakai sebagai salam, apakah pembicara yang menggunakannya mengharapkan para pendengar menyambutnya kembali? Kalau “ya,” kata apa yang diharapkannya akan diucapkan balik oleh para pendengar? Coba tanyakan kepada mereka itu, kalau mereka mengharapkan kata apa? Seperti ucapan “Terimakasih” dalam bahasa Indonesia, apakah balasannya? Kata “Thank you” dalam bahasa Inggeris, apakah balasannya? Kata “Assalamu Alaikum” dalam bahasa Arab, apakah balasannya? Kata “Shalom Aleikhem” dalam bahasa Ibrani apakah balasannya?
Kalau pengucap kata-kata itu tidak tahu maknanya dan tidak tahu apa yang diharapkan untuk diucapkan kembali oleh para pendengar, lebih baik janganlah memakai kata-kata itu, pakai saja kata-kata yang mempunyai makna yang serupa dan dimengerti dan diketahui oleh pengucap dan pendengar. Itulah alasan penulis untuk tidak membiasakan diri memakai kata shalom. Untuk kata “amin” dan “haleluya” penulis biasa menggunakannya dengan catatan, harus selalu berusaha menjelaskan artinya berulang- ulang. Kalaupun belum jelas, rasanya lebih baik orang bertanya, daripada hanya mengucapkan suatu kata (shalom misalnya) tetapi tidak faham maknanya serta cara penggunaannya, lalu tidak juga bertanya.
Ambil saja contoh, frasa “Selamat Pagi.” Hampir tidak pernah ada orang yang bertanya apa maknanya, karena sudah keseringan dan juga hanya dipakai sebagai salam. Demikian juga kata shalom, mungkin sudah keseringan atau karena hanya dipakai dalam salam, jadi orang tidak menganggap perlu bertanya. Ya pertanyaan mengenai kata shalom di sini diajukan, mungkin karena saudara penanya sempat hadir dalam program pembinaan pemimpin dan pekerja gereja atau acara-acara lain, di mana dalam penyajian materi, penulis sempat menyentil mengenai penggunaan kata “Shalom.”

Jadi, ucapan salam itu seperti مكيلع مﻼسلٱ ( As-salamu Alaykum) dalam bahasa Arab, eἰρήνη ὑµῖν
(Eirene Humin) dalam bahasa Yunani, maka dalam bahasa Ibrani adalah םכילﬠ םוֹלשׁ (Shalom Aleichem).
Ucapan salam seperti ini diucapkan untuk masculine audience atau umum, dan Shalom Aleichen untuk
feminine audience. Frasa Shalom Aleichem dipakai oleh pengucap yang lebih tinggi statusnya daripada
orang-orang yang menerima salam seperti tiga kali diucapkan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 20
(Kitab Perjanjian Baru berbahasa Ibrani). Kalau orang yang berbicara itu dianggap atau menganggap diri
sama derajatnya dengan orang-orang yang menerima salam, dipakailah Shalom Lachem. Kalau yang
menerima salam itu hanya 1 orang, maka salamnya harus berbunyi “Shalom Lecha” (Shalom Aleicha
untuk maskulin dan Shalom Alayich untuk feminin).
Perhatikan bahwa pada contoh-contoh yang kita baca di dalam Alkitab, tidak diharapkan (tidak dicatat adanya)
balasan dari pendengar. Jadi, kalau menyimpulkan dari cara penyampaiannya, maka sekiranya para pendengar harus mengucapkan sesuatu sebagai balasan, hendaknya Shalom Aleicha (kepada pembicara tunggal maskulin) atau Shalom Alayich (kepada pembicara tunggal feminin). Ada penulis yang
menyarankan sambutannya sama dengan bahasa Arab yakni dengan membalikkan urutannya, jadi kalau diucapkan Shalom Aleichem maka jawabannya menjadi Aleichem Shalom. Tetapi bagaimana kalau yang mengucapkan terlebih dahulu itu adalah pembicara dari depan (di mimbar)? Akan salah kalau audience menjawab seperti itu bukan? Kalau sama-sama tunggal, maka kita harus menggunakan bentuk tunggal untuk membalasnya. Contohnya, kalau “harus” menyambut pembicara tunggal yang berada di mimbar

atau di podium, sebaiknya kita menggunakan frasa םוֹלשׁ
shalom) untuk orang kedua tunggal).

pֶלי ﬠָ ְו – Ve’aleykha Shalom (ke atasmu juga

So, you see, it is not easy to borrow other language just to satisfy the speaker’s ego, or to buy the audience’s respect, that’s why I do not like such a practice.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *