BSL – TENTANG INJIL

Oleh: Pdt. Dr. Frans P. Tamarol

Pengantar

Read More

Walaupun kata “injil” sudah dikenal luas di masyarakat umum terutama di kalangan kristiani, namun masih saja timbul pertanyaan-pertanyaan mengenai arti sebenarnya dari kata itu dan apakah ada perbedan-perbedaan di antara berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dan para rasul, khususnya Rasul Paulus. Di sekolah-sekolah kita di Indonesia bahkan diajarkan bahwa Injil itu adalah nama Kitab Suci orang Kristen. Akibatnya ialah, setiap kali ada orang Kristen yang dalam percakapan sehari-hari sempat menyebut kata “injil” atau menyampaikan kalimat-kalimat yang diperkirakan berkaitan dengan Injil, dengan serta-merta teman bicaranya yang non Kristen akan menampik sambil berkata, “Itu kan diajarkan dalam Injil, yaitu Kitab Suci kamu, sedangkan kami mempunyai Kitab Suci kami sendiri.” Tentu saja bagi dia itu adalah benar, dan dia mempunyai hak untuk menampik. Kita harus menjelaskannya dengan sopan dan harus menghindari perdebatan yang mengarah kepada meningkatnya emosi, itu sama sekali tidak baik (counter productive).
Hal serupa dapat juga terjadi dalam percakapan di antara orang-orang Kristen yang tidak segolongan gereja. Sebagai manusia, para pengkhotbah/pengajar di persekutuan gereja masing-masing tidak akan pernah mampu memberi penjelasan yang utuh untuk setiap topik iman Kristen. Mereka hanya memberi tekanan-tekanan pada bagian-bagian tertentu pada setiap kesempatan berkhotbah atau mengajar. Anggota-anggota jemaat yang mendengarnya pun tentu mememperoleh lebih kecil lagi dari sejumlah informasi yang disampaikan, karena menurut pengamatan para ahli, manusia pada umumnya hanya mampu mengingat hari ini lima persen dari apa yang didengarnya kemarin. Karena itu, ketika anggota-anggota jemaat dari dua golongan gereja berbeda saling bertemu dan membicarakan topik iman yang sama, dapat saja mereka bersilang pendapat karena mereka mendapatkan (atau mengingat) bagian-bagian informasi yang tidak sama dari pengajar yang tidak sama walaupun menyangkut pokok yang sama.
Itulah sebabnya referensi tertulis sangatlah penting, dan orang yang mau benar-benar mengetahui sesuatu ia harus bersifat terbuka, rajin membaca dan menelusuri sebanyak mungkin referensi. Ia tidak boleh memilih sikap seperti katak di bawah tempurung, baru tahu sedikit, disangkanya dia sudah mahapandai, hanya dia yang benar, orang-orang lain salah semuanya. Dalam kekristenan, standard tertinggi untuk menguji ajaran-ajaran dari para pengkhotbah dan pengajar, lisan maupun tertulis, adalah Alkitab. Selanjutnya, bila didapati adanya perbedaan-perbedaan dalam bagian-bagian Alkitab tertentu serta beragamnya tafsiran dalam referensi yang tersedia, maka kita harus menghindar dari pemikiran bahwa ayat-ayat Alkitab saling bertentangan.
Orang yang belajar dan mengajar Alkitab harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri setiap kali membaca satu bagian Alkitab (Bible passage), a.l., (1) Bagian yang saya sedang baca ini ditujukan kepada siapa, apa yang Tuhan perintahkan, kapan dan bagaimana melakukan perintah itu? dan (2) Kalau bagian ini ditujukan kepada umat Allah pada dispensasi-dispensasi sebelumnya atau dispensasi yang akan datang, apakah prinsip-prinsip yang saya dapat pelajari dari bagian ini? Jawaban-jawaban terhadap kedua pertanyaan ini akan sangat membantu kita untuk mengerti dan mengaplikasikan makna bagian Alkitab yang sedang dipelajari tanpa pemikiran bahwa ayat-ayat Alkitab ternyata saling bertentangan satu sama lain. Jadi, Alkitab adalah yang pokok, sedangkan alat-alat yang lain seperti kamus, ensiklopedia, dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penafsiran dsbnya hanya untuk membantu. Kebiasaan rajin membaca dan menelusuri referensi serta sikap berserah kepada bimbingan Roh Kudus melalui doa yang tekun haruslah menjadi bagian kehidupan yang penting bagi orang-orang yang belajar dan mengajar Alkitab.
Pada kesempatan ini, penulis mau mengajak kita semua untuk belajar tentang kata “injil.” Tentu kita semua maklum bahwa tulisan singkat ini tidak mampu memberikan informasi menyeluruh mengenai topik dimaksud, hanyalah sebagian yang sangat kecil seperti sudah dijelaskan pada tiga alinea di atas.  Dalam tulisan ini kita bukan memberi tekanan pada isi injil, tetapi pada pengertian kata “injil”serta  bermacam-macam ungkapan yang dipakai untuk menyebut injil itu (boleh juga disebut “Macam-Macam Ungkapan dengan Kata Injil”) seperti yang kita dapati di dalam Alkitab. Juga para pembaca lihat sendiri, dalam artikel ini kata “injil” ditulis dengan “i” (huruf kecil); hanya kalau itu menjadi sebuah nama atau dalam judul/sub judul atau sebagai kata pertama dalam kalimat, baru huruf “i” pertama itu dieja dengan “I”(huruf  besar). Harap hal ini tidak mengganggu walaupun di antara pembaca ada yang lebih senang melihat kata “injil” selalu dieja dengan “I” (huruf besar) di awalnya.

Arti Kata Injil

Kata “injil” itu diserap dari bahasa Arab yang berarti khabar baik. Alkitab berbahasa Indonesia menggunakan kata “injil” untuk menerjemahkan kata Yunani εὐαγγέλιον (dibaca euangelion). Jadi, semua yang disebut dengan “khabar baik” di dalam Alkitab itu sebenarnya dapat dimengerti sebagai “injil” atau euangelion (dalam Septuaginta—terjemahan PL ke bahasa Yunani dan dalam PB berbahasa Yunani),  Dalam perkembangan lanjut, kata “injil” yang dalam bahasa Inggerisnya “gospel” (maknanya juga sama yakni “khabar baik”) dipakai sebagai nama keempat kitab pertama dalam PB. Demikian juga halnya orang-orang Kristen di negara-negara yang berbahasa Arab menamai keempat kitab pertama PB itu sebagai Kitab-Kitab Injil yakni Injil-Al-Mattius (Kitab Injil menurut Matius), Injil-Al-Marcus (Kitab Injil menurut Markus), Injil-Al-Lucas (Kitab Injil menurut Lukas), dan Injil-Al-Yohannah (Kitab Injil menurut Yohanes).
Dalam pemahaman teologi, kata “injil” dipakai untuk menyebut khabar baik yang disampaikan langsung oleh Yesus Kristus (Injil Yesus Kristus) dan atau khabar baik tentang Yesus Kristus yang disampaikan oleh keempat penginjil seperti disebut di atas plus rasul-rasul lainnya seperti Rasul Petrus, Rasul Paulus dllnya. Rasul Paulus secara gamblang menyebutkan khabar baik yang dia sampaikan itu sebagai “Injilku” (εὐαγγέλιόν μου). Kalau sudah demikian maka timbullah pertanyaan seperti diuraikan pada bagian pengantar, apakah Injil yang diberitakan oleh Paulus, sama dengan ataukah berbeda dari Injil yang diberitakan oleh Tuhan Yesus?
Apabila pertanyaan seperti itu dijawab dari segi pengertian kata seperti sudah dijelaskan di atas, ya, pastilah semua injil itu sama yaitu khabar baik. Namun isi khabar baik itu tentunya dapat berbeda-beda tergantung pada siapa yang memberitakannya, kapan diberitakan dan kepada siapa berita itu disampaikan. Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam PL (Baca misalnya II Sam. 4:10; II Raja 7:9; Band. Yes. 40:9; 52:7). Dalam PB, seperti sudah dikatakan di atas, keempat kitab pertama disebut sebagai Kitab-kitab Injil, walaupun pada kenyataannya hanya Markus yang menggunakan kata “injil” pada bagian pembukaannya (Markus 1:1).
Apabila kita memasuki bidang penafsiran, maka Kejadian 3:15 dapat disebut sebagai khabar baik yang disampaikan oleh Allah kepada umat manusia, walaupun dalam ayat ini tidak ada kata yang dapat diterjemahkan sebagai eungelion. Khabar baik di sini sudah menjurus kepada pengertian spesifik yaitu berita keselamatan di dalam Yesus Kristus, Anak Allah yang akan dilahirkan sebagai benih perempuan, Dia akan mengambil rupa manusia dan tunduk sampai mati sebagai tebusan bagi orang banyak.
Perhatikan bahwa kalimat dalam Kejadian 3:15 ini ditujukan oleh Allah kepada ular (Baca mulai dari ayat 14), namun diperdengarkan kepada Adam dan Hawa, lalu dengan ilham Roh, Nabi Musa menuliskannya supaya dibaca oleh orang-orang Israel di bawah Dispensasi Hukum Taurat. Sekarang, di bawah Dispensasi Kasih Karunia, kita semua pun boleh membacanya. Mengikuti alur berpikir seperti ini, maka Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, dipenuhi injil yaitu khabar baik. Tidak heran kalau orang-orang non Kristen sering menyebutkan bahwa Kitab Suci orang Kristen adalah “Injil” dan kita yang beragama Kristen tidak merasa perlu membantahnya atau mengoreksinya, walaupun kita tahu bahwa nama Kitab Suci orang Kristen adalah Alkitab.

Macam-Macam Ungkapan dengan Kata Injil
Nah, diharapkan sampai pada titik ini para pembaca sudah mendapatkan gambaran bahwa isi khabar baik atau injil itu berbeda-beda, walaupun prinsip-prinsipnya dapat saja sama. Menelusuri kata “injil” dalam Alkitab, kita akan mendapatkan bermacam-macam ungkapam yakni: (1) Injil Allah; (2) Injil Yesus Kristus, (3) Injil Kristus, (4) Injil Perdamaian, (5) Injil Kerajaan, (6) Injilku—Paulus yang mengatakannya, (7) Injil untuk orang tak bersunat, dan (8) Injil untuk orang bersunat.
Kedelapan ungkapan itu menunjukkan persamaan dan perbedaan. Sama karena semuanya adalah injil, namun dapat berbeda karena qualifying phrase yang ditambahkan pada penyebutannya memberi arti yang berbeda, dan context-nya dalam Alkitab juga berbeda-beda. Dalam bahasa Inggeris semuanya disebutkan sebagai “Gospel of …..” kecuali apa yang Paulus katakan sebagai “Injilku” (My Gospel) yang tentunya dapat juga dimengerti sebagai Gospel of Paul—namun dalam teologi biasanya disebut sebagai Pauline Gospel.
Ungkapan atau frasa “Injil Allah” (Gospel of God) merujuk kepada setiap khabar baik yang bersumber dari Tuhan Allah (Mark. 1:14; Roma 1:1; 15:16; II Kor. 11:7; I Tes. 2:2, 8, 9). Ungkapan “Injil Yesus Kritus” (Gospel of Jesus Christ) yang dipakai oleh Markus (Baca Markus 1:1), dalam Alkitab berbahasa Indonesia ditulis sebagai “Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam terjemahan bahasa Inggeris, kata depan “of” di sini dapat pula dimengerti sebagai “dari” atau “milik” (“belongs to”) sehingga frasa ini dapat dibaca, “Injil dari Yesus kristus, Anak Allah” (atau  “the Gospel which belongs to Jesus Christ, the Son of God”).
Ungkapan “Injil Kristus” (Gospel of Christ) dipakai oleh Rasul Paulus dalam Roma 15:19, 29; I Kor. 9:12, 18; II KOr. 2:12; 9:13; 10:14; Gal. 1:7; Fil. 1:27; I Tes. 3:2). Frasa ini dimengerti sebagai istilah umum seperti juga Injil Allah, dan menunjuk kepada Kristus sebagai obyek iman. Frasa “Injil Kerajaan” (Gospel of the Kingdom) ditemukan hanya dalam Kitab Injil menurut Matius (4:23; 9:35; 24:14). Injil Kerajaan berhubungan dengan janji Allah kepada Daud seperti disebutkan dalam II Samuel Pasal 7. Yohanes Pembatis berkhotbah kepada bangsa Israel dan mengingatkan mereka tentang kedatangan kerajaan sorga yang sudah dekat (Mat. 3:2), demikian pula Tuhan Yesus (Mat. 4:17) serta murid-murid-Nya (Mat. 10:7).
Frasa “Injil Perdamaian” merujuk kepada karya penebusan oleh Kristus yang telah memperdamaikan manusia dengan Allah. Rasul Paulus mengutip Yesaya 52:7 ketika dia berbicara tentang Injil Perdamaian (Ef. 6:15). Manusia yang telah berdosa memperoleh kesempatan untuk menerima penebusan oleh darah Yesus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa manusia (Yoh. 1:29). Allah berkenan terhadap pengorbanan Tuhan Yesus, dan orang-orang tebusan yaitu mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka pribadi diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:10).
Frasa “Injilku” (My Gospel atau dapat diartikan sebagai Pauline Gospel) dapat dibaca dalam Roma 2:16; 16:25; II Tim. 2:8. Ungkapan ini akan diberi penjelasan yang lebih rinci karena menyangkut khabar baik bagi kita yang hidup dalam dispensasi sekarang ini, dan sering menjadi perdebatan di antara para penafsir.
Alkitab berbahasa Indonesia menerjemahkan frasa “my gospel” (εὐαγγέλιόν μου) sebagai “Injil yang diberitakan oleh Paulus” dalam Roma 2:16, dan “Injil yang kumasyhurkan” dalam Roma 16:25. Hanya di dalam II Tim. 2:8, dipakai kata “Injilku.” Beberapa penafsir menunjuk pengertian frasa ini ke I Kor. 15:1-4 dan tentu saja hal itu benar karena itu memang Injil yang diterima oleh Paulus dari Tuhan dan yang diberitakan oleh Paulus. Namun rasul-rasul yang lain pun menyampaikan berita yang sama dengan itu, sehingga istilah “Injilku” haruslah merujuk pada sesuatu yang lain. Ahli-ahli lain menunjuk kepada Injil keselamatan untuk orang-orang bukan Yahudi (Gentiles) karena Paulus adalah rasul yang khusus ditugaskan oleh Allah untuk bangsa-bangsa lain—orang-orang bukan Yahudi (Roma 11:13). Tetapi berita keselamatan untuk bangsa-bangsa lain sudah disebutkan dalam kisah-kisah serta nubuat-nubuat Perjanjian Lama, bahkan dalam apa yang dikenal sebagai “Amanat Agung” pun, Tuhan sudah memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.
Membaca Roma 16:25, 26 kita dapat melihat bahwa frasa “Injilku” itu berhubungan dengan program Allah yang rahasia (μυστήριον) yang disimpan selama berabad-abad lamanya dan yang kemudian dinyatakan-Nya kepada manusia melalui Rasul Paulus. Inilah maksud Paulus ketika dia menyurat kepada orang-orang Galatia dia berkata, “Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:12).
Jadi, Injil yang diterima oleh Rasul Paulus (Injilku) itu adalah Injil Yesus Kristus juga sehingga  mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang diberitakan oleh rasul-rasul yang lain, seperti sudah disebutkan di atas (I Kor. 15:3-4 misalnya), tetapi isi “Injilku” itu sesuai dengan program Allah yang dipercayakan kepada-Nya yaitu Dispensasi Kasih Karunia (Ef. 3:2) yang adalah program rahasia Allah (Ef. 3:5, 9; Roma 16:25). Rasul Petrus pun menulis bahwa para nabi telah berusaha meneliti tentang  saat yang mana dan bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus di dalam mereka, yang memberikan kesaksian tentang segala penderitaan Kristus dan segala kemuliaan yang menyusul kemudian (Baca I Pet. 1:11). Jadi, ketika para nabi menerima penyataan Allah, dalam penglihatan mereka ada dua peristiwa utama yakni penderitaan dan kemudian disusul dengan kemuliaan yang dialamai Kristus.
Para nabi itu, ibarat memandang jauh ke depan, mereka melihat Bukit Penderitaan (Bukit Joljuta tempat Kristus mati di salib) dan Bukit Kemuliaan (Bukit Zion, ketika Kristus menggenapi janji untuk memulihkan kerajaan Daud). Mereka melihat kedua bukit itu berimpit, peristiwa yang pertama langsung disusul oleh peristiwa yang kedua. Daerah yang luas yang terbentang di antara kedua bukit itu tidak tampak kepada mereka, itulah Dispensasi Kasih Karunia yang dirahasiakan Allah selama berabad-abad dan kemudian dinyatakan kepada Rasul Paulus dan melalui dia, para rasul lain dan kita yang hidup sekarang boleh mengetahuinya juga, bahkan kita sedang mengalaminya sendiri.
Hal yang dilukiskan pada alinea di atas dapat dibaca dalam Mazmur 22 ketika Daud menuliskan tentang penderitaan Kristus dan kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Rasul Petrus pun dalam khotbahnya pada hari raya pentakosta mengutip  Joel 2:28-32 untuk menerangkan mengenai janji Allah yang berhubungan dengan turunnya Roh Kudus dan apa yang akan terjadi sesudah itu tanpa petunjuk mengenai apakah ada sesuatu yang lain di antaranya (KR. 2:17-21). Penjelasan lanjut dapat dibaca dalam buku Ayat-Ayat Alkitab Saling Bertentangan Benarkah? (Yayasan PELITA, 2005, hal. 88-89, 94-95). Jelaslah dari contoh-contoh ini bahwa kepada para nabi dan para rasul tidak diberi penyataan mengenai program Allah yang rahasia itu sebelum dinyatakan-Nya kepada Rasul Paulus. Jadi, kata “Injilku” yang dipakai oleh Paulus merujuk kepada khabar baik yang berhubungan dengan program Allah yang rahasia dalam Dispensasi Kasih Karunia sekarang ini. Karena itu, maka kata “Injilku” dimengerti juga sebagai “Injil Kasih Karunia”(K.R. 20:24) tanpa mengurangi atau meniadakan unsur kasih karunia dalam penyebutan atau ungkapan dengan kata injil yang lain-lainnya.
Ungkapan “Injil untuk orang yang tidak bersunat” itu merujuk kepada injil yang diamanatkan oleh Tuhan kepada Paulus (Gal. 2: 6-9), jadi, sama dengan “Injilku” yang sudah diterangkan di atas. Sedangkan frasa “Injil untuk orang yang bersunat” itu merujuk kepada Injil yang diamanatkan Tuhan kepada Rasul Petrus (Gal. 2:6-9) dan kesebelas rasul lainnya dalam hubungan dengan janji Allah tentang kedatangan sang Mesias yaitu Raja yang akan menduduki takhta Daud. Dengan demikian “Injil untuk orang bersunat” itu sama dengan “Injil Kerajaan.”

Kesimpulan
Injil artinya adalah khabar baik, jadi Injil Allah berarti semua khabar baik yang bersumber dari Allah. Dalam pengertian spesifik, kita mengenal istilah Injil Yesus Kristus yang tentu saja berasal dari Allah juga dan isinya ialah berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus Juruselamat manusia. Injil yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi dan selanjutnya diteruskan oleh keduabelas rasul adalah berita keselamatan untuk seluruh umat manusia. Namun berita keselamatan itu dimengerti oleh orang-orang di bawah Dispensasi Hukum Taurat yang berlaku pada waktu itu dalam hubungan dengan penggenapan perjanjian Allah kepada Abraham (dinyatakan dalam frasa “Injil untuk orang bersunat”) dan kepada Daud (dinyatakan dalam frasa “Injil Kerajaan”). Dalam pengertian seperti ini, maka bangsa Israel menjadi yang terutama (Mat. 10:5-6 ; Band. K.R. 13:46).
Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus, yaitu injil yang diterimanya langsung dari Tuhan, bukan melalui perantaraan rasul-rasul lain itu, adalah berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus untuk semua umat manusia, khususnya orang-orang bukan Yahudi (Roma 11:13; Gal. 2:6-9). Injil yang diberitakan oleh Paulus ini berhubungan dengan program Allah yang dirahasiakan oleh Allah selama berabad-abad (Roma 16:25; Ef. 3:5, 9; Kol. 1:25). Paulus menyebut injil yang diterimanya langsung dari Tuhan itu sebagai “Injilku” atau “Injil Kasih Karunia Allah.”
Di bawah Dispensasi Kasih Karunia, tidak ada lagi perbedaan antara orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi, semua orang yang menerima Injil Kasih Karunia Allah dibaptiskan oleh Roh Kudus ke dalam satu tubuh, yaitu gereja—Tubuh Kristus (I Kor. 12:13, 27; Efesus 2:13-16; 3:4-10) dan pengharapan mereka bukanlah menantikan datangnya kerajaan sorga di bumi melainkan pengangkatan gereja, Tubuh Kristus ke sorga kekal mulia (I Tes. 4:16-17). Tugas kita sekarang adalah memberitakan Injil kasih Karunia Allah ini kepada semua orang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *