Oleh: Dr. Djonny Pabisa, M.Pd., M.Th
Bacaan: 1 Korintus 5:1–8
Ayat Utama:
“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru…”
(1 Korintus 5:7a)
Kasus imoralitas serius terjadi di jemaat Korintus, tapi yang mengejutkan: jemaat justru membiarkannya. Paulus tidak diam. Dia menyerukan agar dosa tidak dibiarkan hidup di tengah persekutuan. Kenapa? Karena sedikit ragi bisa mengkhamirkan seluruh adonan.
Kasih karunia bukan berarti kompromi dengan dosa. Kasih karunia mengundang pertobatan dan memelihara kekudusan. Kekudusan bukan untuk menghakimi orang lain, tapi untuk menjaga tubuh Kristus tetap sehat dan murni.
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita hidup di dunia yang merayakan toleransi, bahkan terhadap dosa. Tapi sebagai tubuh Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengasihi, tapi juga menjaga kekudusan. Bukan karena kita sempurna, tapi karena kita dipanggil untuk jadi terang.
Menjaga kekudusan tidak berarti jadi legalis atau kasar. Itu berarti kita berani menegur dalam kasih, dan mau juga ditegur. Persekutuan yang sehat adalah persekutuan yang saling menolong untuk hidup benar.
Dan yang paling penting: mulailah dari diri sendiri. Apa ragi yang masih kamu simpan diam-diam? Hari ini adalah waktu yang tepat untuk membereskannya, dan berjalan sebagai adonan baru, karena Kristus, Anak Domba Paskah kita, telah dikorbankan.
Jangan abaikan ragi kecil dalam hidupmu. Ambil satu langkah praktis untuk meninggalkan kompromi, dan jika perlu, bicaralah dengan seseorang yang kamu percaya untuk saling membangun dalam kekudusan.
“Kasih karunia bukan izin untuk berdosa, tapi kekuatan untuk hidup kudus.”
Pertanyaan Refleksi:
- Apakah aku sedang menoleransi sesuatu yang Tuhan ingin aku tinggalkan?
- Sudahkah aku menjadi bagian dari persekutuan yang saling menegur dan membangun dalam kasih?
- Apa langkah praktis yang bisa aku ambil hari ini untuk menjaga kekudusan hidupku?
Doa:
Tuhan Yesus Kristus, aku tidak mau hidup dalam kompromi. Bersihkan hatiku dan singkapkan ragi yang harus aku buang. Ajar aku hidup dalam kekudusan bukan karena takut dihukum, tapi karena aku dikasihi dan ditebus oleh darah-Mu. Amin.





